Arif Kurniawan, S.ST (Sarjana Samping Terminal)

“Ilmu itu ibarat binatang buruan dan menulis itu adalah ikatannya. Ikatlah binatang-binatang buruan Anda dengan tali yang kuat." [ Imam Syafi'i ]

Bolehkah Membayar Zakat Fitrah di Awal atau Pertengahan Ramadhan?

Diterbitkan pada | July 26, 2012 - الخميس 09 رمضان 1433 | Blm ada komentar

Sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah kejuruan di Malang, setiap bulan Ramadhan seperti ini pasti disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan di Sekolah khususnya kegiatan anak didik dalam pondok Romadhon dan zakat fitrah. Kalau pondok ramadhan insyaAllah tidak begitu banyak masalah yang fatal… tapi yang perlu kita jadikan perhatian adalah ketika diadakan kegiatan Zakat Fitrah. Masalahnya yaitu karena hari aktif sekolah menjelang lebaran kemungkinan besar adalah seminggu / 7 hari sebelum lebaran, sehingga pembagian Zakat Fitrah dilakukan sebelum itu. Nah, apakah boleh membagikan Zakat Fitrah di awal ramadhan atau dipertengahan atau sebelum waktu yang sudah ditentukan oleh Allah dan Rasulnya serta apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi dalam hal pembagian Zakat Fitrah ini? Karena bagaimanapun para Sahabat رضي الله عنهم adalah murid langsung Nabi yang tidak mungkin berdusta, sehingga perkataannya bisa kita jadikan sandaran jika kita mengalami sebuah kasus.

Maka mari kita pelajari salah satu syari’at agama ini dengan baik :

Hukumnya
Zakat Fitrah adalah salah satu kewajiban yang ditetepkan Rasulullah ketika selesai melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan. Berkata sahabat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما : “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadhan atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa diantara kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Kadar yang Dikeluarkan
Zakat fitrah adalah mengeluarkan satu shaa’ (sekitar 2,5 – 3 kg) makanan pokok manusia. Berkata sahabat Abu Sa’id Al Khudri رضي الله عنه : “Kami mengeluarkan pada hari raya idul fitri pada masa Nabi satu shaa’ dari pada makanan. Dan makanan kami saat itu adalah gandum sya’ir, anggur kering (kismis), susu yang dikeringkan dan kurma” (HR. Bukhari)

Selain Makanan Pokok Tidak Sah
Tidak sah mengeluarkannya dalam bentuk nilai makanan seperti : uang, pakaian, makanan pokok binatang dan barang-barang lainnya karena hal ini menyalahi perintah Nabi , beliau bersabda : “Barangsiapa menciptakan hal-hal baru dalam urusan kami ini (dalam urusan agama dan syari’at) apa yang bukan (berasal) darinya, maka ia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, maka ia (amalan tersebut) tertolak. “

Yang Wajib Mengeluarkan Zakat Fitrah
Yang wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah orang yang mempunyai kelebihan dan nafkah kebutuhannya untuk hari ied dan malamnya.

Seseorang wajib mengeluarkannya untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya seperti isteri dan kerabat jika mereka tidak mampu mengeluarkannya untuk diri mereka sendiri, namun jika mereka mampu maka yang lebih afdhal adalah mereka mengeluarkannya sendiri.

Waktu Mengeluarkannya dan Hikmahnya.
Zakat fitrah wajib dikeluarkan sebelum shalat ied dan yang afdhal mengeluarkannya pada hari Ied sebelum melaksanakan shalat Ied. Diriwayatkan dari Ibnu Umar radluyallah ‘anhuma dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar (zakat fitrah) dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan shalat (‘Iedul Fitri).” (Muttafaq ‘Alaih).

Boleh juga menyerahkannya kepada amil zakat lebih cepat sehari atau dua hari dari hari ‘Iedul Fitri. Diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata, “Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma menyerahkan zakat fitrah kepada panitia zakat, kemudian mereka membagikannya sehari atau dua hari sebelum hari ‘Iedul Fitri.” (Shahih Bukhari). Dan ini menjadi ijma’ dikalangan sahabat.
Dan diharamkan menunda-nundanya hingga setelah shalat tanpa alasan yang jelas. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallah ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ‘Ied, maka ia zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah shalat, maka ia menjadi sedekah biasa.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Orang yang Berhak Menerimanya
Zakat fitrah tidak boleh diberikan kecuali kepada orang miskin, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits Ibnu Abbas, “dan zakat fitrah sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah sebelum H-1 atau H-2, misalkan di awal ramadhan atau di pertengahan ramadhan. Tidak ada satu mazhab pun yang berpendapat bahwa boleh mengeluarkan zakat fitrah di waktu selain apa yang di contohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat رضي الله عنهم ajma’in. Bahkan dalam mazhab Syafi’i, yaitu Imam Nawawi رحمه الله juga demikian, bahwa zakat fitrah boleh dibagikan minimal H-2 lebaran. Hal senada juga dikatakan oleh Ustadz Abdul Aziz, SKM dari Pandaan yang ketika itu penulis tanya seusai shalat tarawih di masjid Al A’raf – Sawojajar, Malang.  Jika hal itu dilakukan oleh amil zakat, maka amil tersebut yang tidak amanah menjalankan titipan dari kaum muslimin dan harus segera bertaubat, sehingga amil zakat fitrah harus hati-hati dalam masalah ini.

Dalam kasus kegiatan sekolah yang mana para guru sebagai amil zakat, maka ini sebenarnya bisa disiasati. Yaitu untuk pengumpulan zakat fitrah dari siswa/guru diberikan sebelum libur lebaran, tetapi ada sebagian guru/panitia yang bersabar dan menyisihkan waktunya pada H-1/H-2 hari raya untuk membagikannya kepada yang berhak. Sehingga guru/siswa yang menitipkan zakat fitrah kepada panitia tidak dirugikan. Tidak boleh hanya karena alasan ingin segera libur atau mudik kemudian meremehkan amanah dari para siswa/guru yang menitipkan zakat fitrah.

Dalam hal bentuk zakat fitrah, dari penjelasan di atas disebutkan bahwa zakat fitrah harus dalam bentuk makanan pokok sebuah negeri. Kalau di Indonesia berarti berupa beras, sebanyak 1 shaa’ atau sekitar 2,5 – 3 kg. Jika siswa/guru atau seseorang menitipkan zakat fitrah berupa uang, maka itu harus dbelikan beras dulu oleh panitianya. Tetapi paling mudah adalah langsung memberikan berupa beras.

Semoga ini bisa menjadikan koreksi dan menambah ilmu khususnya bagi penulis dan umumnya para pembaca sekalian. Semoga kita diberikan kesehatan oleh Allah سبحانه و تعل agar mampu menuntaskan ramadhan ini dengan hasil berupa ampunan dan pahala Allah سبحانه و تعل.

Daftar Pustaka

1. Fiqih Ramadhan, Abdullah Shalih Al Hadromi

2. Fiqih Sehar-hari / Mukhkhullasul Fiqh, Syaikh DR. Saleh Al Fauzan

Komentar

Tinggalkan sebuah balasan





*

  • Firman Alloh

    2|111|Di antara dongeng dan angan-angan kosong orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah anggapan bahwa surga tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang seagama dengan mereka. Maka mintalah kepada mereka untuk mendatangkan bukti-bukti yang memperkuat itu jika mereka memang benar.
  • Radio Dakwah Sunnah

  • Download Kajian Islam

  • Link Bermanfaat

  • Jadwal Sholat (Malang)

    احد
    26 Zulkaedah 1435
    Sekarang : Dzuhur (11:23)
    Nanti : Asr (14:36)
  • Spam Yang Diblok

  • Tinggalkan Pesan

    Your Shout
  • Chat di Yahoo!

  • Trafik Pengunjung

    Halaman

    Halaman|Dibaca |Unique

    • Harian: 197
    • Mingguan: 1,605
    • Bulanan: 8,691
    • Online Sekarang: 1
  • Link Menarik